Ancelotti Enggan Disebut Berada Dalam Bayang-Bayang Pep

Friday, July 29th at 12:33 PM
Ancelotti Enggan Disebut Berada Dalam Bayang-Bayang Pep

Carlo Ancelotti menelan kekalahan pertamanya bersama Bayern Muenchen. Juara bertahan Bundesliga itu  kalah 3-5 dari AC Milan adu penalti di Soldier Ficld, Kamis (28/7), dalam tur pramusim International  Champions Cup (LCC) 2016

Ancelotti memang masih perlu waktu untuk bisa membuktikann kemampuannya  sebagai suksesor Josep Guardiola. Laga pramusim pun  tidak bisa menjadi ukuran menilai kualitas. Ancelotti yang sudah meraih 16 tropi bersama empat  klub yang pernah di latih nya.

Pelatih 57 tahun  ini juga menolak dianggap  masih berada di bawah bayang-bayang Pep, sapaan akra Guardiola pelatih asal spanyol itu meninggalkan Muenchen dengan torehan tujuh tropi  dalam tiga musim. Namun belum pernah meraih tropi Liga Champions.

“Guardiola  bagian fantastis  dari klub ini. tetapi saya tidak merasa seperti bekerja dalam bayang- bayangnya ,” ujar  Ancelotti.

Ancelotti  termasuk pelatih yang memiliki cara konservatif. Tidak seperti kebanyakan pelatih dari generasi tua lain,terutama dari Italia yang di anggap sebagai tradisionalis.

Pelatih yang akrab di sapa Dun Carlo itu mampu memelihara dirinya sendiri, sama seperti Guardiola yang selalu berlomba dengan idc- idc  sepak bola  tanpa keanehan serupa. Ancelotti pun tidak perlu waktu adaptasi. Ancelotti selalu menyesuaikan taktik dengan klub yang di latih selama hampir dua dekade  terakhir .

Saya hanya berharap, pelatih Muenchen  berikutnya akan di tanyakan tentang saya, sebagai mana sering saya mendapat pertanyaan  mengenai Pep,” ucap don Carlo.

Saat di AC Milan. Ancelotti terkenal  dengan pormasi pohon Natal 4-3-2-1 dengan menjadikan lini tengah sebagaia pengontrol permainan. Ia mendapatkan pemain-pemain seperti Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, dan Clarence Seedrof  guna mendukung  Ricardo Kaka  dan Rui Costa di depannya.

Chelsea yang awal nya menggunakan  skema berlian  di geser menjadi 4-3-3 hasil nya, The Blues julukan Chelsea  menjadi tim pertama yang  mencetak  100 gol  dalam sejarah  Liga   Primer  Inggris bersama  Paris Saint Germain,  Ancelotti  meletakan dasar tentang apa yang ada dalam klub  itu saat ini.

Sedangkan di Real Mdrid, pelatih kelahiran Roggiolo menampung kebanyakan  pemain dengan karakter menyerang. Ancelotti  mengubah ketidakseimbangann  ini menjadi gelar La Decima bagi Madrid.

Hal itu juga yang akan di lakukannya di Muenchen. Ancelotti menilai. tim berjulukan Die bayern ini  memiliki banyak pemain menyerang berkualitas,

Karakteristik pemain kami memungkinkan untuk memainkan sepak bola menyerang. Kami bisa memainkan  beberapa  sepak bola yang intens, dengan semua keceptan pemain yang  kami punya ,”Ancelotti menurtkan.
Kekecewan Ribery

Sementara, kekecewaan  pemain senior Franck Ribery  terhadap Guardiola  selama Muenchen  tidak dapat di bendung. Pemain 33 tahun itu menilai Guardiola  terlalu banyak  bicara  dalam menerapkan  taktik permainan. sebelumnya. Ribery  merasa lebih dipercaya Ancelotti  di banding Pep

“Pep tidak memiliki karirr panjang  sebagai pelatih. Dia pelatih muda, kurang pengalaman terkadang, dia berbicara terlalu banyak, sepak bola sangat simpel ,”kata Ribery.”